Yuwielueninet’s Weblog

TAKUT ORANG BARU

Posted on: March 29, 2008

TAKUT ORANG BARU

Jika si kecil menangis saat bertemu orang baru, bukan berarti ia akan tumbuh jadi si penakut, lo. Justru itu merupakan reaksi yang sehat.

Umumnya, takut bertemu orang baru mulai terjadi di usia 7-8 bulan, karena di usia itulah kebanyakan anak mengalami kecemasan untuk pertama kali. Hal ini ditandai dengan menangis saat memandang seseorang yang tak dikenal. Jadi, wajar saja, ya, Bu-Pak.

Kecemasan tersebut, terang dra. Lila Pratiwi, merupakan salah satu aspek perkembangan emosional bayi. Sekaligus, “suatu tanda pertama kesadaran bayi terhadap lingkungan masyarakat.” Maksudnya, pada bulan-bulan pertama bayi belum bisa membedakan orang, hingga siapa pun yang mendekatinya tak jadi masalah. Namun seiring usia berkembang, ia bisa membedakan antara orang yang dikenalnya dan asing. Nah, saat inilah kesadarannya terhadap lingkungan mulai muncul.

TAHAPAN PERKEMBANGAN

Berikut ini tahapan perkembangan sosialisasi bayi.

* Usia 0-2 bulan

Siapa pun yang membelai, menggendong, atau memeluknya, ia takkan keberatan asal terasa nyaman. Senyumnya pun masih merupakan refleks, biasanya lantaran ada rangsangan berupa sentuhan.

Pengalaman pertama yang positif tentang adanya hubungan dengan orang lain diperoleh dari sentuhan kulit yang intensif saat menyusu. Soalnya, lewat kulitlah ia pertama kali merasakan ada hubungan dengan lingkungan semisal panas dan dingin. Nah, kehangatan dan kelembutan kulit payudara ibu saat ia menyusu, sungguh memberi pengalaman berarti buatnya.

Menangis merupakan caranya untuk mengungkapkan perasaan dan kebutuhan-kebutuhannya. Bukankah sebelum mampu bicara, bayi berkomunikasi lewat tangisan? Jadi, kita harus peka dan tanggap tiap kali ia menangis, apa gerangan yang ia rasakan atau butuhkan. Untuk itu, perlu mempelajari arti tangisannya.

* Usia 2-3 bulan

Si kecil mulai bisa membedakan antara manusia dengan benda. Ia memahami, manusialah yang dapat memenuhi kebutuhannya. Hingga, ia merasa puas bila bersama seseorang. Sebaliknya, jika ditinggalkan sendirian, ia merasa tak nyaman. Namun di usia ini ia belum menunjukkan kecenderungan terhadap satu orang tertentu saja, melainkan masih menerima setiap orang.

Seiring dengan itu, kita bisa melihat senyum sosial (senyum pergaulan) pertamanya. Sejak itu, ia “rajin” berespon tersenyum tiap melihat wajah orang yang tengah mendekatinya atau mengajaknya ngobrol dan bermain. Dengan kata lain, ia mulai berinteraksi. Apalagi ia juga mulai mengeluarkan suara-suara semisal “a-a-a” yang merupakan perkembangan bicara. Bukankah untuk bisa bergaul butuh keterampilan bicara?

* Usia 4-5 bulan

Ia mulai ingin digendong oleh seseorang yang mendekatinya. Antara lain dengan mengulurkan tangan kala didekati. Ia pun dapat membedakan wajah dingin dengan wajah tersenyum, maupun membedakan suara yang bersahabat dengan yang bernada marah.

Jika bertemu dengan sesama bayi atau anak lain yang lebih besar, ia akan mencoba menarik perhatian dengan cara melompat-lompat, menendang-nendang, tertawa, atau meniup-niup gelembung udara dengan bibirnya.

Kini ia bukan hanya bisa senyum, juga tertawa. Malah selepas usia 4 bulan, ia bisa tertawa gelak, terlebih kala kita menggodanya.

* Usia 6-7 bulan

Di usia ini ia mulai membedakan antara orang yang dikenal dengan orang yang masih asing baginya. Bila bertemu orang yang dikenal, ia pasti tersenyum. Namun bila ketemu orang yang masih asing, ia langsung menunjukan rasa khawatir atau takut. Sementara bila bertemu bayi lain, ia akan tersenyum dan memberi perhatian bila ada yang menangis. Ia pun mulai belajar mengenal rasa malu pada orang lain.

Kemampuan bicaranya juga makin berkembang, ia mulai merangkaikan suku kata seperti “da-da-da” alias mengoceh. Sering-seringlah mengajaknya bicara, karena mengoceh merupakan dasar dari kemampuannya berbicara.

Usia ini sekaligus juga merupakan awal dari masa kelekatan antara bayi dengan ibu atau orang yang mengasuhnya. Kita tahu, betapa penting kelekatan supaya si kecil percaya pada lingkungan.

* Usia 9-12 bulan

Si kecil mulai menunjukkan rasa ingin tahu terhadap pakaian atau rambut bayi lain, mencoba meniru tingkah laku dan bunyi yang dibuat bayi lain, serta menunjukan minat yang sama pada satu hal semisal mainan. Meski, bila salah satu merebutnya, ia merasa terganggu dan menangis.

Ia pun mulai mengamati apa yang dikerjakan orang-orang di sekitarnya. Bahkan, ia juga mengerti aturan yang ditetapkan orang dewasa seperti “jangan” atau “enggak boleh”. Tentu kemampuan bicaranya pun makin bertambah.

KENALI TEMPERAMEN

Kendati sudah ada patokan umum seperti di atas, namun tak setiap bayi akan melalui tahapan perkembangan sosialisasinya sama persis dengan patokan tersebut, lo. Soalnya, tutur Lila, faktor temperamen bawaan punya peran penting dalam mempengaruhi kesiapan bayi bereaksi terhadap lingkungannya. “Bayi yang mudah, misal, dapat beradaptasi dengan cepat.”

Bayi mudah, terang psikolog ini, ditandai pola makan dan tidurnya yang cukup teratur, serta dapat mengikuti perubahan lingkungan tanpa kesulitan berarti. “Tingkat intensitas pada saat menangis pun umumnya sedang.” Sebaliknya, bayi sulit bertolak belakang dengan bayi mudah. “Ia punya kemauan keras. Bila menghadapi perubahan, ia mengalami kesulitan. Kebiasaan makan dan tidurnya pun sulit diduga.”

Tempramen lain, bayi yang lambat beradaptasi atau pemalu. “Ia perlu waktu lebih lama untuk menyesuaikan diri dengan perubahan. Bila menghadapi perubahan, biasanya menangis walaupun intensitasnya tak tinggi.” Terakhir, bayi dengan ciri gabungan ketiga ciri di atas.

Menurut penelitian, diperkirakan 40 persen dari seluruh bayi cukup mudah beradaptasi, 10 persen tergolong sulit, dan sekitar 15 persen merupakan bayi lambat beradaptasi. Sementara selebihnya, hampir sepertiga dari keseluruhan bayi memiliki gabungan dari ketiga ciri tersebut.

Nah, tugas kitalah mengenali temperamen si kecil, ya, Bu-Pak. Soalnya, hanya dengan kenal temperamen, kita bisa memberi respon yang tepat hingga si kecil pun senang. Dengan begitu, kita memberinya kesempatan untuk tumbuh dan berkembang sehat. Ibarat menanam pohon, bilang Lila, masing-masing jenis punya kebutuhan berbeda untuk bisa tumbuh optimal. “Misal, ada tanaman yang senang mendapat banyak sinar matahari dan air secukupnya, sementara tanaman lain perlu tempat teduh, dan sebagainya.”

Jadi, dalam mengasuh si kecil yang pendiam dan cukup sensitif, misal, kita bisa menyiapkan strategi dalam menghadapi lingkungan baru. Biasanya si pendiam, kan, tak suka berhadapan langsung dengan orang lain secara mendadak. Nah, kita bisa minta orang baru tersebut untuk tak langsung menggendong si kecil, melainkan melakukan pendekatan bertahap; kita duduk di samping orang itu sambil memangku si kecil, lalu biarkan orang itu menepuk-tepuk kaki atau tangan si kecil hingga si kecil terbiasa dan akhirnya mau berinteraksi.

Jikapun si kecil tak mau bersalaman dengan orang lain, tak perlu dipaksa. Tawarkan saja alternatif salam lain, misal, cara kiss bye atau toss seperti yang biasa dilakukan anak-anak lain yang lebih besar. Yang penting, Bu-Pak, dalam menghadapi lingkungan baru, beri kesempatan si kecil untuk mengamati lingkungan itu.

MENGACU REAKSI ORANG TUA

Namun jangan sekali-kali merasa minder dengan temperamen si kecil, ya, Bu-Pak. Apa pun temperamennya, bukan berarti buruk, kok. Justru kita harus memahami dan menerimanya agar ia bisa tumbuh dan berkembang optimal. Apalagi, seperti dibilang Lila, reaksi kita ketika menghadapi si kecil berperan besar dalam membantunya menghadapi dunia luar. “Bukankah setiap anak akan belajar dari orang tuanya?” ujar mitra kerja di Divisi Klinik dan Layanan Masyarakat pada Lembaga Psikologi Terapan UI ini.

Dalam menghadapi hal baru, lanjutnya, anak umumnya belum tahu reaksi apa yang seharusnya ia tampilkan, hingga ia banyak mengacu pada reaksi yang ditampilkan orang tuanya. Misal, seorang ayah yang senang mengangkat bayinya tinggi-tinggi seperti hendak menerbangkan pesawat. “Awalnya mungkin si bayi merasa takut karena merasa seperti mau jatuh. Setelah melihat wajah ayahnya yang memancarkan kegembiraan dan tertawa, ia pun ikut tertawa. Di kemudian hari ia akan mengerti bahwa kegiatan itu menyenangkan.”

Begitu juga dalam menghadapi lingkungan sosial baru, “bayi akan banyak melihat reaksi yang ditampilkan oleh orang yang dipercayainya.” Misal, bayi baru belajar berjalan. “Biarkan ia menjelajah di lingkungan yang aman. Namun bila ia terjatuh, jangan menunjukkan reaksi terkejut semisal dengan tergopoh-gopoh menghampirinya dan langsung menggendongnya. Ia bisa dua kali lipat terkejut melihat reaksi orang tua yang demikian. Jadi, sebaiknya orang tua tetap tenang, lalu bantu ia berdiri sambil memeriksa barangkali ada yang sakit atau luka. Setelah itu, beri semangat untuk mencoba lagi dengan berkata, ‘Oh, tadi jalannya sudah jauh, ya, tapi jatuh karena tersandung boneka. Kalau begitu, kita taruh bonekanya ke pinggir dulu, ya, jadi Adik bisa lewat.’ Dengan begitu, ia pun mau berjalan lagi.”

Nah, kini kita jadi lebih tahu, ya, Bu-Pak, bagaimana meng-handle si kecil agar ia tak takut lagi pada lingkungan baru.

Faras Handayani

JANGAN ABAIKAN RASA TAKUTNYA.

Kita justru harus bersimpati, lo, Bu-Pak. Walaupun kita tahu sesungguhnya tak ada yang perlu ia takutkan, namun rasa takutnya itu merupakan perasaan yang benar-benar dialaminya. Bukankah ini memang bagian dari perkembangannya? Jadi, jangan anggap sepele, ya, Bu-Pak. Kita pun, bilang Lila, tak boleh memaksa si kecil menghadapi langsung hal yang ditakutinya. Kalau tidak, si kecil bukan jadi berani, malah makin tambah takut. Kalau sudah begitu, makin sulit buat kita untuk membuatnya “berani” menghadapi hal yang ditakutinya itu. Nah, kita juga yang susah, kan?

BELAJAR TERTAWA

Tertawa biasanya muncul di usia 4 bulan dan akan meningkat frekuensi maupun intensitasnya seiring usia bertambah. Nah, agar si kecil mau tertawa, kita bisa memberikan sejumlah rangsangan seperti disampaikan Lila berikut ini:

* Rangsangan auditory (bunyi-bunyian). Misal, dengan membunyikan suara bibir (popping) atau dengan mengatakan, “Bum… bum….”

* Rangsangan perabaan. Antara lain, dengan meniup-niup rambut si kecil.

* Rangsangan visual, seperti pura-pura ngedot atau merangkak di lantai.

* Rangsang sosial, di antaranya bermain ciluk-ba.

Namun, Bu-Pak, yang paling penting, tertawa itu menular. Bila kita senang melihat si kecil tertawa, demikian juga sebaliknya, si kecil malah lebih senang lagi melihat kita tertawa. Jadi, tertawalah bersama si kecil.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Dapatkan Peluang Kamu Disini

Xpango uses a unique Credit system to reward our customers with Free Mobile Phones, Gaming Consoles, MP3 Players & HDTVs ! like this : Credit requirements for Gifts vary depending on the retail price of the Mobile Phone/Gaming Console/MP3 Player/HDTV. More expensive Gifts require more Credits than less expensive Gifts. The diagram below details how the system works: click here Register just Click
March 2008
M T W T F S S
    Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Blog Stats

  • 1,058,181 hits
web counter Get your own free Blogoversary button!

Indonesian Community

FUPEI



Photobucket
%d bloggers like this: